Bantul (MAN 2 Bantul) – Kreativitas peserta didik MAN 2 Bantul kembali mengantarkan madrasah menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui karya kriya bertema “Mozaik Pattern”, Rima Salsabila Ainia, siswi kelas XIIF, berhasil meraih Juara 3 bidang Kriya dalam EXTRANAS ke-8 Tahun 2026 yang diselenggarakan di Lamongan, Jawa Timur.
Penghargaan tersebut diserahkan pada malam penutupan dan pengumuman kejuaraan, Sabtu (12/9/2026). Capaian ini menjadi bukti kreativitas, keterampilan, ketekunan, dan keberanian peserta didik MAN 2 Bantul dalam mengembangkan potensi melalui karya kriya.
Karya yang mengantarkan Rima meraih podium ketiga mengusung tema “Mozaik Pattern”, dengan memanfaatkan kain perca sebagai bahan utama. Potongan-potongan kain yang sebelumnya merupakan sisa bahan tekstil diolah secara kreatif menjadi sebuah karya kriya yang memiliki nilai estetis sekaligus nilai ekonomis. Konsep Mozaik Pattern memungkinkan kain perca disusun menjadi beragam pola dan bentuk. Kreativitas tersebut dapat dikembangkan menjadi representasi manusia, hewan, maupun bentuk-bentuk dekoratif lainnya, baik sebagai pajangan dinding, aplikasi pada busana, maupun produk fungsional yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karya tersebut menunjukkan bahwa bahan sederhana tidak harus berakhir sebagai limbah. Dengan ide, keterampilan, ketelitian, dan sentuhan kreativitas, kain perca dapat diubah menjadi produk yang lebih bernilai. Pemanfaatan kain perca juga memperlihatkan adanya upaya untuk menghadirkan karya yang tidak sekadar menarik secara visual, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai jual. Hal ini sejalan dengan semangat madrasah dalam menumbuhkan kreativitas dan jiwa technopreneur pada peserta didik.
Dalam mengikuti kompetisi tersebut, Rima didampingi oleh Afiah Nur Aqini, guru Tata Busana MAN 2 Bantul. Pendampingan dilakukan selama proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi. Persiapan yang sungguh-sungguh menjadi salah satu modal penting bagi peserta untuk menghasilkan karya terbaik dan mampu bersaing dalam ajang tersebut.
Afiah Nur Aqini mengapresiasi semangat dan kesungguhan Rima dalam mengikuti kompetisi. Menurutnya, proses penciptaan karya memberikan pengalaman penting bagi peserta didik untuk mengasah kreativitas, ketelitian, kemandirian, sekaligus kemampuan menghasilkan karya yang mempunyai nilai estetis dan fungsional.
“Melalui karya ini, siswa belajar bahwa bahan sederhana seperti kain perca dapat dikembangkan menjadi karya yang menarik dan memiliki nilai. Prosesnya juga melatih ketelitian, kesabaran, kreativitas, dan keberanian untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda,” ungkap Afiah.
Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati yang memimpin langsung kontingen MAN 2 Bantul, menyampaikan apresiasi atas perjuangan dan capaian peserta didik.
“Prestasi ini merupakan bukti bahwa siswa MAN 2 Bantul mampu mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang membanggakan. Apa yang diraih Rima menunjukkan bahwa keterampilan dapat dikembangkan menjadi karya yang memiliki nilai estetis, fungsional, bahkan ekonomis.”
Menurut Nur Hasanah, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi peserta didik dan madrasah, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan yang mendorong siswa untuk berani mencoba, berinovasi, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“Kami berharap prestasi ini menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berkarya dan berani berkompetisi. Madrasah akan terus memberikan ruang dan dukungan bagi peserta didik untuk berkembang, baik dalam bidang akademik maupun keterampilan,” tambahnya.
Prestasi Rima melalui karya “Mozaik Pattern” menjadi salah satu wujud nyata semangat “Madrasah Technopreneur, Madrasah Berprestasi.” Semangat technopreneur tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga sebagai dorongan untuk membangun pola pikir kreatif, inovatif, produktif, dan mampu melihat peluang dari berbagai sumber daya yang ada. Dalam konteks karya Rima, kain perca yang sederhana dapat dikembangkan menjadi karya kriya yang mempunyai nilai estetis, nilai guna, dan potensi ekonomi.
Proses tersebut sekaligus memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk mengenal tahapan menghasilkan sebuah produk: mulai dari menemukan ide, memilih dan memanfaatkan bahan, menentukan pola, mengolah bahan dengan keterampilan, hingga menghasilkan karya yang layak ditampilkan dalam sebuah kompetisi.
Dengan demikian, kompetisi bukan hanya menjadi tempat untuk mengejar kejuaraan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi peserta didik untuk membangun kreativitas, kemandirian, ketekunan, rasa percaya diri, dan jiwa kewirausahaan.
Raihan Juara 3 EXTRANAS ke-8 Tahun 2026 bidang Kriya menambah catatan prestasi MAN 2 Bantul sekaligus memperlihatkan bahwa madrasah memberikan perhatian terhadap pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh. Prestasi tersebut juga menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan dapat menjadi sarana untuk melahirkan karya inovatif yang berangkat dari persoalan sederhana di sekitar. Kain perca yang selama ini sering dipandang sebagai bahan sisa dapat memperoleh kehidupan baru melalui kreativitas peserta didik.

MAN 2 Bantul berkomitmen untuk terus memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam mengembangkan bakat, menghasilkan karya, mengikuti berbagai kompetisi, serta membangun prestasi di berbagai bidang.
Dari kain perca menjadi karya, dari kreativitas menjadi prestasi. Raihan Rima Salsabila Ainia menjadi bukti bahwa ketika ide, keterampilan, dan keberanian dipadukan, bahan sederhana pun dapat menghasilkan karya yang membanggakan. Semangat tersebut terus menjadi bagian dari langkah MAN 2 Bantul untuk mewujudkan “Madrasah Technopreneur, Madrasah Berprestasi.” (Yn)






