Bantul (MAN 2 Bantul) — MAN 2 Bantul melaksanakan upacara bendera pada Senin (5/10/2026) di halaman madrasah. Upacara diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan serta seluruh siswa kelas X, XI, dan XII.
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, menyampaikan amanat dengan cara yang sederhana, tetapi sarat makna. Ia menggunakan selembar kertas HVS sebagai media untuk menggambarkan bagaimana seseorang menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan.
Di hadapan peserta upacara, Nur Hasanah memegang selembar kertas HVS pada bagian bawahnya. Kertas tersebut ternyata tidak mampu berdiri tegak dan justru terkulai. Selanjutnya, kertas itu diremas-remas hingga membentuk lipatan-lipatan. Ketika kembali dipegang pada bagian bawah, kertas tersebut ternyata mampu berdiri lebih tegak.
Nur Hasanah kemudian bertanya kepada para siswa mengapa kertas yang sebelumnya tidak dapat berdiri tersebut justru mampu berdiri setelah diremas-remas.
Salah seorang siswa kemudian maju dan memberikan jawaban. Ia mengibaratkan remasan pada kertas sebagai ujian yang dihadapi manusia dalam kehidupan. Menurutnya, ketika seseorang mendapatkan ujian, ia akan belajar menjadi lebih kuat dan mampu berdiri tegar menghadapi kehidupan.
Jawaban tersebut dibenarkan oleh Nur Hasanah. Ia kemudian menjelaskan makna dari peragaan sederhana yang dilakukannya.
“Kertas ini kalau masih polos, dia tidak bisa berdiri. Tetapi setelah diremas-remas, justru bisa berdiri. Begitu juga dengan kita. Ketika kita menghadapi ujian, jangan kemudian kita merasa bahwa ujian itu akan membuat kita hancur. Justru ujian itulah yang akan membuat kita menjadi lebih kuat,” jelas Nur Hasanah.
Lebih lanjut, ia mengajak para siswa untuk tidak takut menghadapi kesulitan. Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan dapat menjadi proses pembelajaran untuk membentuk karakter seseorang.
“Dalam kehidupan, tidak mungkin kita selalu mendapatkan jalan yang mulus. Ada kalanya kita mendapatkan kesulitan, kegagalan, tekanan, dan berbagai macam ujian. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Jangan mudah menyerah, tetapi jadikan setiap ujian sebagai pengalaman untuk belajar dan menjadi lebih baik,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa ketegaran tidak muncul begitu saja. Seseorang perlu melalui proses dan pengalaman untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.
“Jadi, kalau suatu saat kalian mendapatkan masalah atau mengalami kegagalan, jangan langsung mengatakan bahwa semuanya selesai. Bisa jadi, itu adalah proses Allah untuk menjadikan kalian lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap menghadapi kehidupan,” lanjutnya.
Peragaan selembar kertas HVS tersebut pun menjadi ilustrasi sederhana yang mudah dipahami oleh seluruh peserta upacara. Pesan yang disampaikan mengajak siswa untuk memandang ujian bukan semata-mata sebagai sesuatu yang melemahkan, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan diri.
Melalui amanat tersebut, Nur Hasanah berharap para siswa MAN 2 Bantul memiliki sikap pantang menyerah, mampu mengambil pelajaran dari setiap pengalaman, serta tetap teguh ketika menghadapi berbagai tantangan dalam belajar maupun kehidupan.
Seperti kertas yang menjadi lebih mampu berdiri setelah melalui proses remasan, manusia pun diharapkan semakin kuat dan tegar setelah melewati berbagai ujian. (ith)






