Kulon Progo (MAN 2 Bantul) — Di antara ratusan jemaah haji yang bersiap berangkat dari Embarkasi Yogyakarta, sosok remaja bernama Vania Ulayya mencuri perhatian. Di usianya yang baru 14 tahun, siswi kelas 8 SMPIT Assalaam Sanden ini tercatat sebagai jemaah termuda dari Kabupaten Bantul pada musim haji tahun ini.
Berasal dari Krajan, Poncosari, Srandakan, Bantul, Vania bukan sekadar jemaah muda. Ia membawa kisah perjuangan, harapan, dan doa yang terangkai dalam perjalanan hidupnya. Putri tunggal dari pasangan Heni Dwi Hastuti dan almarhum Murdiyono ini harus merelakan kepergian sang ayah pada 5 Maret 2025 akibat gagal ginjal. Kepergian tersebut menjadi titik refleksi mendalam bagi Vania, sekaligus menguatkan tekadnya dalam menapaki perjalanan spiritual menuju Tanah Suci.
Ditemui di lobby hotel transit di Kulon Progo, sehari sebelum keberangkatan, Vania tampak tenang namun tak bisa menyembunyikan haru. “Perasaan saya campur aduk, senang, bahagia, sekaligus terharu. Ini seperti mimpi yang jadi nyata,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Di balik usianya yang masih belia, Vania menunjukkan kedewasaan dalam memaknai ibadah haji. Ia mengaku banyak mendapatkan pelajaran spiritual selama proses persiapan. “Saya belajar meluruskan niat, supaya semua ibadah benar-benar karena Allah. Juga belajar sabar, introspeksi diri, dan memperbaiki kesalahan. Saya jadi lebih rajin salat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an,” tuturnya.
Tak hanya itu, Vania juga merasakan pentingnya tawakal dan rasa syukur. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar ritual, tetapi proses pembentukan diri. “Saya ingin jadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat dengan Allah, dan bisa membahagiakan orang tua,” tambahnya.
Motto hidupnya sederhana namun penuh makna: “Syukuri hari ini, jalani esok dengan harapan.” Kalimat itu seolah menjadi pegangan Vania dalam menghadapi setiap fase kehidupan, termasuk perjalanan hajinya.
Ketua Kloter 7 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, turut memberikan apresiasi atas semangat dan kesiapan Vania. Menurutnya, kehadiran jemaah muda seperti Vania menjadi inspirasi bagi jemaah lainnya. “Vania ini luar biasa. Di usia yang sangat muda, ia sudah menunjukkan kesiapan mental dan spiritual yang matang. Ia tidak hanya ikut berangkat, tapi benar-benar memahami makna ibadah haji. Ini yang patut menjadi teladan,” ujar Nur Hasanah.
Ia juga menambahkan bahwa keberangkatan Vania menjadi simbol bahwa panggilan Allah tidak mengenal usia. “Kami berharap Vania bisa menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan lancar dan kembali menjadi hajjah yang mabrurrah,” imbuhnya.
Sementara itu, sang ibunda, Heni Dwi Hastuti, tak kuasa menahan haru melihat putri semata wayangnya mendapat kesempatan istimewa ini. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa syukur dan bangganya. “Saya sangat terharu dan bersyukur. Ini adalah impian keluarga kami, terutama almarhum ayahnya. Saya yakin ini juga menjadi doa beliau yang dikabulkan Allah,” tuturnya.
Ia mengaku bahwa Vania telah menunjukkan perubahan sikap yang positif selama masa persiapan haji. “Vania jadi lebih sabar, lebih rajin ibadah, dan lebih dewasa dalam bersikap. Saya melihat ada ketenangan dalam dirinya,” tambahnya.
Sebagai seorang ibu, ia hanya berharap perjalanan putrinya diberikan kelancaran dan perlindungan. “Semoga Vania selalu sehat, dimudahkan dalam setiap langkahnya, dan pulang menjadi hajjah yang mabrurrah,” doanya. Di Tanah Suci nanti,
Vania telah menyiapkan doa khusus yang akan dipanjatkannya: “Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.” Doa itu mencerminkan harapannya untuk meraih kebaikan di dunia dan akhirat.
Lebih dari itu, Vania menyimpan mimpi besar dalam hidupnya: meraih kesuksesan dunia dan akhirat serta membahagiakan orang tua. Perjalanan hajinya menjadi langkah awal dari cita-cita tersebut. Kisah Vania Ulayya menjadi pengingat bahwa usia bukanlah penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di tengah dinamika kehidupan remaja, ia memilih jalan sunyi penuh makna—menjadi tamu Allah di usia muda, membawa harapan, doa, dan cinta yang tak terhingga. (ith)






