Bantul (MAN 2 Bantul) — Tangan yang biasanya memegang buku dan perangkat pembelajaran kini sibuk memanen sayuran. Di tengah hamparan hijau kebun madrasah, Pengawas Madrasah Heni Prilantari turut memetik hasil tanaman bersama siswa kader Adiwiyata MAN 2 Bantul, pada Selasa (8/9/2026). Momen sederhana tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dibangun melalui aksi, bukan sekadar slogan. Kunjungan Heni Prilantari ke kebun MAN 2 Bantul tidak hanya menjadi agenda peninjauan lingkungan madrasah. Ia melihat langsung proses pemanfaatan lahan, kondisi tanaman, serta keterlibatan siswa dalam merawat kebun. Kehadirannya semakin bermakna ketika ia ikut memanen sayuran yang telah siap dipetik.
Didampingi Kepala MAN 2 Bantul Nur Hasanah Rahmawati, Kepala Tata Usaha Bahar Rozak, serta siswa kader Adiwiyata, Heni menyusuri area kebun yang menjadi salah satu ruang hijau produktif di lingkungan madrasah. Di kebun tersebut, siswa tidak hanya menjadi penonton. Para kader Adiwiyata terlibat dalam berbagai aktivitas perawatan tanaman. Mereka belajar mengenali jenis tanaman, memahami kebutuhan air dan perawatan, serta menyaksikan secara langsung proses tanaman tumbuh hingga menghasilkan sayuran yang dapat dipanen.
Bagi MAN 2 Bantul, kebun madrasah memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mempercantik lingkungan. Kebun menjadi laboratorium kehidupan tempat siswa belajar tentang lingkungan melalui pengalaman nyata.
Heni Prilantari mengapresiasi pengelolaan kebun yang melibatkan siswa secara langsung. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai pendidikan karena mempertemukan pengetahuan dengan praktik.
“Kebun seperti ini memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi siswa. Mereka dapat melihat sendiri bahwa sebuah tanaman membutuhkan proses, perawatan, dan tanggung jawab hingga akhirnya bisa dipanen,” ujar Heni. Ia menilai keterlibatan siswa dalam kegiatan lingkungan perlu terus diperkuat. Kebiasaan sederhana seperti menyiram, merawat, membersihkan area kebun, hingga memanen dapat menjadi media pembentukan karakter.
“Yang penting bukan hanya hasil panennya, tetapi proses yang dijalani. Dari proses itulah tumbuh kepedulian, tanggung jawab, kerja sama, dan kesadaran bahwa lingkungan merupakan bagian dari kehidupan yang harus kita jaga,” tambahnya.
Keterlibatan pengawas dalam kegiatan panen juga menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya warga MAN 2 Bantul dalam mengembangkan budaya peduli lingkungan. Kehadiran tersebut sekaligus memberikan motivasi bagi siswa kader Adiwiyata untuk terus aktif menjadi penggerak kegiatan lingkungan di madrasah. Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, menegaskan bahwa semangat Adiwiyata perlu diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari. Menurutnya, program lingkungan akan memiliki makna ketika seluruh warga madrasah merasa memiliki dan terlibat di dalamnya.
“Kami ingin Adiwiyata menjadi budaya yang hidup di madrasah. Bukan hanya kegiatan pada waktu tertentu, tetapi menjadi kebiasaan dalam keseharian, mulai dari menjaga kebersihan, merawat tanaman, mengelola lingkungan, hingga memanfaatkan lahan secara produktif,” jelas Nur Hasanah. Ia menambahkan, kebun madrasah menjadi salah satu media untuk menanamkan kepedulian lingkungan kepada siswa secara kontekstual.
“Ketika siswa ikut menanam, merawat, dan kemudian melihat hasilnya, mereka belajar bahwa lingkungan yang baik tidak tercipta dengan sendirinya. Ada proses, kepedulian, dan kerja sama yang harus dilakukan bersama,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Tata Usaha Bahar Rozak turut mendampingi proses peninjauan dan panen. Keterlibatan unsur tata usaha menjadi bagian dari komitmen bersama bahwa gerakan peduli lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh warga madrasah.
Siswa kader Adiwiyata MAN 2 Bantul menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya membantu proses panen, tetapi juga menjadi penghubung antara program lingkungan dengan kehidupan siswa sehari-hari. Melalui kader Adiwiyata, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dapat diteruskan kepada teman-teman sebaya. Mereka diharapkan mampu menjadi contoh bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, merawat tanaman, menjaga kebersihan, dan memanfaatkan lahan secara bijak.
Panen sayuran menjadi bukti bahwa kegiatan lingkungan dapat memberikan manfaat langsung. Tanaman yang dirawat dengan tekun akhirnya menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati. Namun, lebih dari sekadar sayuran, proses tersebut menghasilkan pengalaman, kepedulian, dan karakter. Program Adiwiyata MAN 2 Bantul terus diarahkan untuk membangun lingkungan madrasah yang bersih, hijau, sehat, nyaman, sekaligus edukatif. Kebun madrasah menjadi salah satu ruang yang mempertemukan unsur pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan warga madrasah.
Kegiatan peninjauan dan panen bersama Pengawas Madrasah menjadi pengingat bahwa gerakan lingkungan membutuhkan kolaborasi. Pimpinan madrasah, guru, tenaga kependidikan, siswa, dan seluruh warga madrasah memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan program. Sebab, Adiwiyata bukan hanya tentang seberapa hijau sebuah madrasah, tetapi seberapa kuat budaya peduli lingkungan tumbuh di dalamnya. Dari kebun MAN 2 Bantul, sebuah pelajaran sederhana kembali dipetik: ketika lingkungan dirawat dengan kepedulian, ia tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga menumbuhkan karakter generasi yang peduli terhadap bumi. (Yn)






