Inovasi Layanan di Era Digital, Pustakawan MAN 2 Bantul Ikuti Pelatihan Kompetensi di MAN 4 Bantul

Bantul (MAN 2 Bantul) – Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan menyesuaikan diri dengan arus digitalisasi yang kian pesat, pustakawan MAN 2 Bantul menghadiri kegiatan Pelatihan Pustakawan Madrasah Negeri se-Kabupaten Bantul. Mengusung tema “Inovasi Perpustakaan di Era Digitalisasi”, forum peningkatan kapasitas ini diselenggarakan pada Rabu (12/08/2026) dan dipusatkan di Aula MAN 4 Bantul.

Kegiatan strategis ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Aminuddin. Dalam sambutannya, Aminuddin menekankan pentingnya akselerasi kompetensi para pengelola perpustakaan di lingkungan madrasah. Menurutnya, pustakawan masa kini tidak boleh hanya berpuas diri dengan peran konvensional sebagai penjaga buku, melainkan harus mampu mentransformasi perpustakaan menjadi pusat belajar digital yang interaktif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Usai sesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan pengarahan teknis mengenai arah pengembangan perpustakaan madrasah oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Dikmad) Kemenag Bantul, Ahmad Musyadad. Dalam arahannya, beliau menggarisbawahi bahwa tolak ukur keberhasilan sebuah perpustakaan modern tidak lagi semata-mata dilihat dari seberapa tebal koleksi buku yang berderet di rak, melainkan dari sejauh mana perpustakaan tersebut mampu memberikan dampak nyata terhadap perkembangan karakter dan akademis siswa.

Perpustakaan yang hebat adalah perpustakaan yang mampu membuat peserta didik merasa senang membaca, memiliki kecakapan dalam memilah informasi yang benar di tengah maraknya hoaks, serta terdorong untuk menghasilkan karya kreatif,” tegas Ahmad Musyadad di hadapan seluruh peserta.

Sesi inti pelatihan diisi oleh narasumber ahli dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bantul (Dispusip Bantul), Yuliana Kristiyani. Dalam pemaparan materinya, Yuliana membagikan strategi praktis mengenai langkah-langkah melakukan efisiensi dan kreativitas dalam pengelolaan perpustakaan. Ia mendorong para pustakawan untuk berani keluar dari zona nyaman dan menciptakan terobosan-terobosan baru yang aplikatif.

Menariknya, Yuliana mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu identik dengan anggaran yang besar atau fasilitas yang mewah. “Saat hendak berinovasi, carilah terobosan yang bisa dilakukan dengan minimal budget, atau bahkan tanpa mengeluarkan biaya sama sekali dengan memanfaatkan sumber daya digital terbuka (open source) yang sudah tersedia,” paparnya.

Keikutsertaan pustakawan MAN 2 Bantul dalam agenda ini diharapkan dapat membawa angin segar bagi pengelolaan Perpustakaan MAN 2 Bantul ke depan. Hasil dari pelatihan ini akan langsung diterapkan dalam bentuk penataan ulang konsep layanan, penguatan literasi digital, serta penyediaan fasilitas membaca yang lebih ramah anak. Melalui sinergi dan inovasi berkesinambungan, perpustakaan madrasah diharapkan tidak hanya menjadi gudang ilmu, tetapi juga menjadi ruang kreatif yang adaptif, inspiratif, dan paling diminati oleh seluruh civitas akademika. (Prema)

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top