Bantul (MAN 2 Bantul) – Waka Kurikulum MAN 2 Bantul, Fitria Endang Susana, mengikuti kegiatan yang menghadirkan Anita Isdarmini, Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Kanwil Kemenag DIY, yang sekaligus menjadi momentum pamitan Anita seiring perpindahan tugas ke Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf. Dalam kesempatan tersebut, Anita menyampaikan pesan mendalam tentang keikhlasan mengabdi di madrasah sekaligus berbagi strategi membangun prestasi peserta didik hingga menjadi juara olimpiade.
Dalam penyampaiannya, Anita menekankan bahwa mengelola dan memperbaiki madrasah membutuhkan niat yang benar. Menurutnya, ketika tugas mengurus madrasah hanya dilandasi kepentingan duniawi, pekerjaan yang dilakukan justru dapat menghadirkan rasa lelah dan kerugian. Sebaliknya, keikhlasan dalam memperbaiki madrasah dan mendidik peserta didik akan melahirkan energi positif.
“Ngurusi madrasah dengan niat duniawi saja hanya akan mendapatkan kesel dan rugi. Namun sebaliknya, keikhlasan memperbaiki madrasah, keikhlasan mendidik siswa-siswi madrasah agar berkarakter, akan melahirkan energi positif, yaitu keberkahan dan khasyyatullah,” pesan Anita.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tugas pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada capaian administratif maupun prestasi. Lebih dari itu, pendidikan merupakan amanah untuk membentuk peserta didik yang memiliki karakter dan kesadaran spiritual. Keikhlasan dalam menjalankan tugas diharapkan menjadi kekuatan bagi para pendidik untuk terus memberikan yang terbaik bagi madrasah dan peserta didik.
Tidak hanya berbicara tentang pengabdian, Anita juga membagikan strategi untuk membangun prestasi peserta didik, khususnya dalam menghadapi olimpiade. Menurutnya, prestasi perlu dipersiapkan secara sistematis sejak awal tahun ajaran. Salah satu hal mendasar yang harus dimiliki adalah peta belajar yang jelas, sehingga proses belajar siswa menjadi lebih terarah dan tujuan yang hendak dicapai dapat dipetakan sejak awal.
Ia juga menekankan pentingnya membangun seleksi peserta didik sejak awal tahun ajaran. Dengan seleksi yang dilakukan lebih awal, madrasah dapat menemukan siswa yang memiliki potensi dan selanjutnya memberikan pembinaan sesuai dengan bidang yang diminati dan dikuasainya.
Strategi berikutnya adalah membangun manajemen latihan yang jelas, mulai dari penentuan jadwal, mentor, hingga evaluasi. Pembinaan juga perlu didukung oleh pelatih profesional agar peserta didik memperoleh pendampingan sesuai dengan kebutuhan kompetisi.
Menurut Anita, madrasah juga dapat membangun kerja sama dengan bimbingan belajar maupun organisasi profesional, termasuk lembaga yang bergerak di bidang riset, seni, dan olahraga. Sementara itu, guru mata pelajaran dapat dipersiapkan sebagai mentor melalui proses pemagangan atau penguatan kompetensi.
Untuk mengetahui perkembangan kemampuan peserta didik, try out secara rutin juga perlu dilakukan. Evaluasi berkala dapat membantu siswa dan pembimbing mengetahui bagian yang sudah dikuasai maupun materi yang masih membutuhkan penguatan.
Bagi MAN 2 Bantul, pesan dan strategi yang disampaikan Anita menjadi bekal berharga dalam memperkuat pengelolaan madrasah sekaligus pembinaan prestasi peserta didik. Momentum pamitan tersebut tidak hanya menjadi perpisahan dalam tugas kedinasan, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan pesan untuk terus memajukan madrasah.
Keikhlasan menjadi energi dalam mengabdi, karakter menjadi tujuan dalam mendidik, dan strategi yang terarah menjadi jalan untuk mengantarkan peserta didik meraih prestasi. (ftr)






