Aktif Berdiskusi dan Selesaikan Tugas, Guru MAN 2 Bantul Berbagi Praktik Baik pada Orientasi Penggerak Ekoteologi di BDK Semarang

Semarang (MAN 2 Bantul) – Keaktifan dan semangat belajar ditunjukkan oleh Puji Lestari, guru MAN 2 Bantul, selama mengikuti Orientasi Penggerak Ekoteologi yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang pada 9–11 Juni 2026. Selain mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias, Puji Lestari juga aktif menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan, berpartisipasi dalam presentasi kelompok, serta terlibat aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama narasumber.

Pada sesi materi Strategi Teknis Pengelolaan Sampah Menjadi Berkah yang disampaikan oleh Dr. Safrinal Safaniady, S.T., M.S.I. dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Puji Lestari menunjukkan peran aktifnya dengan berbagi pengalaman mengenai Bank Sampah Omah Resik Ad Dakwah, sebuah gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah berjalan secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan bagaimana bank sampah tersebut mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah dari rumah, menumbuhkan budaya menabung sampah, serta mengubah sampah yang semula dianggap tidak bernilai menjadi sumber manfaat ekonomi dan sarana membangun kepedulian lingkungan. Praktik baik tersebut mendapat apresiasi karena menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari komunitas kecil dan dilaksanakan secara konsisten.

Tidak hanya berbagi pengalaman, Puji Lestari juga mengajukan beberapa pertanyaan yang menarik perhatian peserta. Salah satunya mengenai perbedaan antara Biowash Promic dan ecoenzim, mengingat keduanya sama-sama dikenal sebagai solusi ramah lingkungan dalam pengolahan limbah organik.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. Safrinal menjelaskan bahwa Biowash Promic merupakan produk berbasis mikroorganisme yang diformulasikan secara khusus untuk membantu proses dekomposisi dan pengolahan limbah organik, sedangkan ecoenzim merupakan hasil fermentasi limbah organik buah dan sayuran dengan gula dan air yang menghasilkan cairan multifungsi sebagai pembersih alami, pupuk cair, dan pengusir hama. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mendukung kelestarian lingkungan, namun berbeda dalam bahan, proses, dan pemanfaatannya.

Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan mesin pirolisis (pyrolysis machine) yang saat ini mulai diperkenalkan sebagai teknologi pengolahan sampah modern. Puji Lestari menyoroti bahwa teknologi tersebut masih menghadapi kendala berupa biaya investasi dan operasional yang relatif mahal sehingga belum mudah diterapkan di sekolah maupun komunitas masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Safrinal menjelaskan bahwa mesin pirolisis memang memiliki potensi besar dalam mengolah sampah tertentu menjadi produk yang lebih bernilai, seperti bensin/solar.  Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan kesiapan sumber daya dan biaya operasional. Oleh karena itu, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan sekolah dapat diawali dengan teknologi sederhana dan murah.

Keaktifan Puji Lestari juga tampak pada sesi Sistem Pemantauan dan Evaluasi Implementasi Kebijakan Ekoteologi. Pada materi ini, peserta diajak memahami pentingnya jejak karbon (carbon footprint) sebagai ukuran dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan. Penggunaan energi listrik, konsumsi bahan bakar, transportasi, serta produksi sampah merupakan bagian dari aktivitas yang menghasilkan emisi karbon dan perlu dikelola secara bijaksana.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep jaring laba-laba (spider web) program lingkungan, yaitu alat evaluasi yang digunakan untuk memetakan capaian berbagai aspek program lingkungan secara visual. Melalui instrumen ini, sekolah atau madrasah dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan program, mulai dari pengelolaan sampah, konservasi air, konservasi energi, penghijauan, partisipasi warga madrasah, hingga kebijakan dan budaya peduli lingkungan.

Menurut Puji, materi yang diperoleh selama orientasi sangat relevan untuk mendukung penguatan program lingkungan di MAN 2 Bantul.

“Kegiatan ini memberikan wawasan bahwa program lingkungan tidak hanya berupa aksi nyata, tetapi juga perlu diukur dampaknya melalui jejak karbon dan dievaluasi secara sistematis. Pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk memperkuat program Adiwiyata dan Gizero Canteen di MAN 2 Bantul,” ungkapnya.

Keaktifan dalam berdiskusi, berbagi praktik baik, serta menyelesaikan tugas-tugas selama kegiatan menunjukkan komitmen guru MAN 2 Bantul dalam mendukung implementasi program Ekoteologi Kementerian Agama. Diharapkan, pengalaman yang diperoleh selama orientasi dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan program lingkungan di madrasah serta mendorong lahirnya generasi yang beriman, berkarakter, dan berwawasan ekologis.(pjl).

 

 

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top