Bantul (MAN 2 Bantul) — MAN 2 Bantul kembali mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi melalui uji coba alat penelitian bertajuk “Pengembangan Smart Learning Kit Berbasis Sensor BME680 dan IoT sebagai Media Pembelajaran IPA untuk Pembusukan Makanan”. Kegiatan uji coba dilaksanakan di Laboratorium Kimia MAN 2 Bantul pada Rabu (6/5/2026).
Pada kegiatan tersebut, sampel makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa jus jambu dan sayur sop diuji menggunakan dua alat smart learning kit yang berbeda. Penggunaan dua alat ini bertujuan untuk melihat hasil pembacaan sensor terhadap kondisi makanan secara lebih akurat sekaligus membandingkan respons alat terhadap sampel yang diuji.
Smart learning kit yang dikembangkan memanfaatkan sensor BME680 yang mampu mendeteksi perubahan suhu, kelembapan, kualitas udara, serta gas volatil (eVOC) yang muncul selama proses pembusukan makanan. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui sistem Internet of Things (IoT) sehingga dapat dipantau secara digital dan real time.
Hasil uji coba menunjukkan adanya perubahan nilai eVOC pada sampel makanan yang diamati. Pada pengukuran awal, sensor mencatat nilai eVOC sebesar 109 ppm dengan kategori “Segar”. Setelah beberapa waktu pengamatan, nilai meningkat menjadi 125 ppm hingga 141 ppm dengan status berubah menjadi “Waspada”. Selain itu, suhu pengamatan berada pada kisaran 40,4–40,5°C dengan kelembapan meningkat dari 53,8% menjadi 56,3%.
Peningkatan nilai eVOC tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi makanan akibat aktivitas senyawa volatil yang mulai muncul selama proses penyimpanan. Data ini menjadi indikator awal bahwa alat mampu mendeteksi perubahan kualitas makanan secara bertahap melalui sensor digital.

Guru Kimia MAN 2 Bantul, Puji Lestari, menjelaskan bahwa pengembangan alat ini nantinya tidak hanya digunakan untuk penelitian, tetapi juga akan diterapkan dalam pembelajaran Kimia dan IPA berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
“Pembelajaran berbasis STEM penting agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat penerapan sains dan teknologi dalam kehidupan nyata. Melalui alat ini, siswa dapat belajar tentang pembusukan makanan, sensor digital, pengolahan data, hingga pemanfaatan IoT secara langsung,” jelasnya.
Pembelajaran yang dikembangkan juga diharapkan mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, serta literasi teknologi peserta didik. Selain itu, penggunaan konteks makanan sehari-hari menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami siswa.
Melalui inovasi ini, MAN 2 Bantul terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mendorong tumbuhnya budaya riset dan inovasi di lingkungan madrasah. (pjl)






