Pemilihan OSIM MAN 2 Bantul Jadi Ruang Praktik Demokrasi Siswa

Bantul (MAN 2 Bantul) — Demokrasi tidak cukup hanya dipahami melalui teori di dalam kelas. Siswa perlu memperoleh pengalaman nyata untuk menggunakan hak pilih, menyampaikan aspirasi, menghargai perbedaan, serta menerima hasil keputusan secara sportif. Semangat itulah yang mewarnai Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MAN 2 Bantul yang dilaksanakan pada Rabu (2/9/2026).

Pemilihan tersebut diikuti oleh seluruh siswa MAN 2 Bantul sebagai pemegang hak suara. Dua pasangan calon bersaing memperebutkan kepercayaan warga madrasah. Pasangan calon nomor urut 1 adalah Helen Okta Zaskia dan Cut Mutiajeng, sedangkan pasangan calon nomor urut 2 adalah Fathan Faqih Rabbani dan Qorry Ayuna.

Pelaksanaan pemilihan menjadi bagian penting dari proses pendidikan demokrasi di lingkungan madrasah. Siswa tidak hanya diarahkan untuk menentukan pilihan, tetapi juga belajar mengenali calon berdasarkan visi, misi, dan program yang ditawarkan. Proses tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi siswa untuk menyampaikan pendapat secara santun dan menghargai pilihan orang lain.

Wakil Kepala Madrasah bidang Kesiswaan, Is Dwiyanti, menegaskan bahwa esensi pemilihan OSIM tidak semata-mata terletak pada perolehan suara.

Pemilihan OSIM bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak. Proses ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar menggunakan hak pilih, menyampaikan aspirasi, menghargai perbedaan pilihan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pemilihan OSIM ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang lebih luas. Demokrasi dipraktikkan melalui pengalaman langsung sehingga siswa memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan harus disertai tanggung jawab.

Dalam pelaksanaannya, proses pemilihan mencakup rangkaian kegiatan mulai dari seleksi calon, kampanye atau penyampaian gagasan, hingga pemungutan dan penghitungan suara. Setelah proses pemilihan selesai, seluruh siswa diharapkan mampu menerima hasil dengan sikap sportif.

Bagi siswa, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga bahwa demokrasi bukan sekadar aktivitas memilih. Demokrasi juga membutuhkan sikap kritis dalam menentukan pilihan, kebebasan menyampaikan aspirasi, penghormatan terhadap perbedaan, serta kesediaan menerima keputusan bersama.

Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, S.Ag., M.M., menyampaikan bahwa pengalaman berdemokrasi perlu dikenalkan kepada siswa sejak berada di bangku madrasah.

Kami ingin siswa mendapatkan pengalaman berdemokrasi sejak berada di bangku madrasah. Mereka belajar bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar memperoleh suara, tetapi bagaimana menjalankan amanah, mendengarkan aspirasi, dan mampu merangkul seluruh warga madrasah.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan OSIM tidak berhenti pada proses memperoleh mandat melalui pemilihan. Setelah terpilih, pasangan ketua dan wakil ketua OSIM memiliki tanggung jawab untuk menjalankan amanah, mendengarkan aspirasi siswa, serta membangun kebersamaan di lingkungan madrasah.

Pemilihan OSIM MAN 2 Bantul pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda rutin organisasi siswa. Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bagi siswa untuk mengalami sendiri proses demokrasi dalam lingkungan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dari bilik suara, siswa belajar bahwa satu suara memiliki arti. Dari perbedaan pilihan, mereka belajar menghargai keberagaman. Sementara dari hasil pemilihan, mereka belajar menerima keputusan bersama dan memberikan kesempatan kepada pemimpin terpilih untuk menjalankan amanah.

Dengan demikian, madrasah tidak hanya menyiapkan siswa yang mampu memahami demokrasi secara konseptual, tetapi juga generasi yang mampu mempraktikkan demokrasi secara kritis, santun, bertanggung jawab, dan berintegritas. (Yn)

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top