Menjelajah Laboratorium Alam Pacitan, Guru Fisika MAN 2 Bantul Perkuat Kompetensi Profesional

Bantul (MAN 2 Bantul) – Bagaimana jika ruang kelas dipindahkan ke tengah sungai, tepian pantai, dan bentang alam? Pertanyaan itulah yang seolah terjawab dalam kegiatan MGMP Fisika MA DIY bertajuk “Pengembangan Kompetensi Profesional Guru melalui Eksplorasi Fisika Kontekstual Berbasis Lingkungan dan Geowisata” di Pacitan, Jawa Timur, Kamis (17/9/2026).

Sebanyak 23 anggota MGMP Fisika MA DIY, termasuk guru Fisika MAN 2 Bantul, mengikuti kegiatan yang dikemas sebagai perpaduan antara pengembangan profesional, eksplorasi lingkungan, dan pembelajaran kontekstual.

Empat destinasi menjadi ruang belajar terbuka bagi para guru, yakni Museum SBY, Kali Cokel, Sungai Maron, dan Pantai Kasap. Perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan, tetapi menjadi kesempatan bagi guru untuk melihat secara langsung berbagai fenomena yang dapat dikaitkan dengan konsep-konsep Fisika.

Di Museum SBY, peserta mendapatkan pengalaman yang memperkaya wawasan tentang sejarah, teknologi, dan berbagai perkembangan kehidupan manusia. Dari sana, perjalanan berlanjut menuju lingkungan alam yang menghadirkan fenomena Fisika secara lebih nyata.

Di Kali Cokel dan Sungai Maron, para guru mengamati karakteristik lingkungan perairan yang dapat dikaitkan dengan berbagai konsep Fisika, seperti gerak, fluida, debit, energi, dan dinamika aliran. Sementara di Pantai Kasap, bentang alam pesisir menjadi ruang observasi untuk mengaitkan Fisika dengan gelombang, mekanika, optik, serta berbagai fenomena alam lainnya.

Guru Fisika MAN 2 Bantul, Iksan Taufik Hidayanto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut memberikan perspektif baru bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran.

“Guru Fisika perlu sesekali keluar dari ruang kelas untuk menemukan kembali Fisika dalam kehidupan nyata. Sungai, pantai, batuan, gelombang, bahkan aktivitas manusia semuanya dapat menjadi laboratorium dan sumber belajar,” ungkap Iksan.

Menurutnya, pengalaman langsung tersebut dapat menjadi modal bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada rumus dan teori. Fenomena yang ditemukan di lapangan dapat dikembangkan menjadi bahan diskusi, proyek, eksperimen sederhana, maupun permasalahan kontekstual yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Yang kita bawa pulang bukan sekadar dokumentasi perjalanan, tetapi juga ide pembelajaran. Harapannya, pengalaman ini dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran Fisika yang lebih kontekstual, menarik, dan bermakna bagi siswa,” tambahnya.

Kegiatan yang diikuti 23 anggota MGMP tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dan kompetensi profesional guru Fisika MA DIY. Berbagai pengalaman, pengamatan, dan diskusi selama perjalanan menjadi bagian dari proses refleksi untuk mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan dan geowisata.

Pacitan akhirnya bukan sekadar destinasi perjalanan. Bagi para guru Fisika, Pacitan menjelma menjadi laboratorium alam terbuka—tempat teori bertemu realitas, konsep bertemu fenomena, dan perjalanan berubah menjadi sumber inspirasi pembelajaran.

Dari Pacitan, Fisika kembali menemukan ruang belajarnya: bukan hanya di papan tulis, tetapi juga di sungai, pantai, dan alam yang terus bergerak. (ith)

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top