Bantul (MAN 2 Bantul) – Suasana berbeda tampak di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bantul pada Kamis pagi. Jika biasanya area sekolah dipenuhi oleh hiruk-pikuk siswa berseragam abu-abu putih atau pramuka, hari ini pemandangan berubah drastis menjadi hamparan warna-warni kain tradisional. Guru dan seluruh siswa-siswi MAN 2 Bantul, khususnya kelas X, tampak anggun dan berwibawa mengenakan pakaian adat Jawa.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Penggunaan busana tradisional ini merupakan bagian dari kepatuhan terhadap instruksi pelestarian budaya lokal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang menetapkan hari Kamis Pon sebagai hari khusus untuk mengenakan pakaian adat Jawa.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (21/5/2026) ini diikuti dengan antusiasme yang sangat tinggi oleh seluruh warga madrasah. Sejak pukul 06.30 WIB, para guru-guru MAN 2 Bantul bersama dengan siswa-siswi kelas X mulai berdatangan melewati gerbang sekolah dengan langkah yang lebih anggun dari biasanya, menyesuaikan dengan pakaian adat yang mereka kenakan.
Para guru wanita dan siswi tampil mempesona dengan balutan kebaya tradisional yang dipadukan secara apik dengan kain batik bermotif klasik seperti parang, sido mukti, dan kawung. Tidak lupa, jilbab yang mereka kenakan diserasikan dengan warna kebaya, menciptakan perpaduan estetika modern dan religius yang tetap santun. Sementara itu, para guru pria dan siswa tampak gagah mengenakan surjan, lengkap dengan kain jarik dan blangkon sebagai penutup kepala.
Kepala TU MAN 2 Bantul menyampaikan bahwa agenda rutin setiap Kamis Pon ini bukan sekadar formalitas mengenakan baju yang berbeda dari hari biasanya. “Ini adalah langkah konkret kita sebagai lembaga pendidikan untuk mendekatkan generasi muda dengan akar budayanya sendiri. Di tengah gempuran budaya asing dan modernisasi, anak-anak kita harus tetap tahu, kenal, dan bangga pada identitas asli mereka sebagai orang Jawa,” ujarnya di sela-sela aktivitas madrasah.
Secara historis dan filosofis, pemilihan hari Kamis Pon sebagai hari berbusana adat berkaitan erat dengan hari lahir atau weton berdirinya Keraton Yogyakarta berdasarkan penanggalan Jawa. Oleh karena itu, momentum ini dimanfaatkan oleh pihak sekolah untuk menanamkan nilai-nilai luhur kemataraman kepada para siswa sejak dini.
Bagaimana kegiatan ini mampu melestarikan kebudayaan? Jawabannya terletak pada pembiasaan. Melalui pembiasaan mengenakan pakaian adat ini, para siswa kelas X tidak hanya belajar secara teori di kelas mengenai ragam budaya Nusantara, tetapi juga mempraktikkannya langsung secara nyata (experiential learning).

Selama seharian penuh, proses belajar mengajar di dalam kelas tetap berjalan dengan efektif. Menariknya, pakaian adat ini secara psikologis juga memengaruhi perilaku para siswa. Mereka cenderung bersikap lebih sopan, menjaga tutur kata, dan berjalan dengan lebih tenangāmencerminkan filosofi adiluhung dari pakaian yang mereka kenakan.
Bagi siswa-siswi kelas X, momen Kamis Pon ini menjadi salah satu hari yang paling dinantikan. Selain bisa tampil beda, momen ini juga kerap dimanfaatkan untuk mengabadikan foto bersama di sudut-sudut estetis di MAN 2 Bantul bersama teman-teman sekelas dan para guru.
Dengan adanya konsistensi dari MAN 2 Bantul dalam melaksanakan kegiatan berbaju adat setiap Kamis Pon ini, diharapkan rasa cinta tanah air dan semangat nasionalisme berbasis kearifan lokal akan terus tumbuh subur di dalam sanubari generasi muda, sehingga kebudayaan Jawa tetap lestari dan tidak punah ditelan zaman. ™






