Bantul (MAN 2 Bantul) — Guru MAN 2 Bantul, Puji Lestari, mengikuti Rapat Koordinasi Tim Penggerak Ekoteologi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul pada Jumat (19/6/2026). Kegiatan berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB, bertempat di Ruang Rapat Subbagian Tata Usaha Kantor Kemenag Bantul.
Rapat koordinasi ini dilaksanakan dalam rangka akselerasi pelaksanaan program kerja serta penguatan implementasi kebijakan ekoteologi di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul. Kegiatan tersebut menjadi forum penting untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta menyusun langkah strategis dalam mewujudkan gerakan peduli lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan.
Rapat diikuti oleh jajaran Kankemenag Bantul dan perwakilan Tim Penggerak Ekoteologi. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Subbagian Tata Usaha Aminuddin, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Sugito, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Ahmad Musyadad, Analis SDM Aparatur Ahli Muda Isman, Puji Lestari dari MAN 2 Bantul; Susanti, dari MTsN 2 Bantul; serta Yassindya Salwa, dari Kankemenag Bantul.
Dalam rapat tersebut dibahas penguatan program Gerakan Lingkungan Asri Kemenag Bantul (Grasi Mantul). Program ini menjadi ikhtiar bersama untuk mewujudkan tata kelola lingkungan yang asri dan mandiri melalui penghijauan, pemilahan sampah, pengurangan sampah plastik sekali pakai, pengelolaan sampah organik, serta pembiasaan perilaku ramah lingkungan di lingkungan Kankemenag Kabupaten Bantul.
Secara istilah, Grasi Mantul merupakan akronim dari Gerakan Lingkungan Asri Kemenag Bantul. Namun, nama ini juga memiliki makna reflektif. Kata “grasi” dapat dimaknai sebagai pengurangan hukuman atau keringanan atas kesalahan yang telah dilakukan. Dalam konteks lingkungan, manusia sering kali tanpa sadar telah “berbuat dosa ekologis” melalui kebiasaan menghasilkan sampah, menggunakan plastik sekali pakai, boros energi, boros kertas, kurang melakukan penghijauan, serta belum optimal dalam menjaga keseimbangan alam. Oleh karena itu, kesalahan terhadap lingkungan tersebut perlu ditebus melalui aksi nyata, seperti pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan tumbler, penghematan energi, pengurangan penggunaan kertas, pengolahan sampah organik melalui Losida dan biopori, serta penanaman pohon atau tanaman lain.
Grasi Mantul dilatarbelakangi oleh kondisi pemilahan sampah organik, anorganik, dan B3 di satuan kerja yang masih perlu dioptimalkan. Selain itu, pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan lahan hijau di madrasah negeri maupun KUA juga menjadi perhatian penting. Melalui program ini, setiap satuan kerja diharapkan mampu menjadi contoh dalam membangun budaya kerja yang bersih, hijau, sehat, hemat energi, minim sampah, dan berkelanjutan.
Secara nilai, Grasi Mantul berpijak pada semangat ekoteologi, yaitu kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Gerakan ini juga menjadi wujud nyata pengamalan nilai keagamaan dalam menjaga keseimbangan alam, mengurangi kerusakan lingkungan, serta membangun kepedulian ekologis di lingkungan kerja. Nilai tersebut selaras dengan ajaran Islam yang mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi dan senantiasa menjaga keseimbangan ciptaan Allah.
Melalui rapat koordinasi ini, Tim Penggerak Ekoteologi menyusun sejumlah agenda strategis. Agenda tersebut meliputi penguatan pemilahan sampah menjadi tiga jenis, yaitu organik, anorganik, dan B3; pengurangan sampah plastik sekali pakai; pembiasaan penggunaan tumbler; pengurangan penggunaan kertas; penghematan energi; pembentukan atau penguatan duta ekoteologi; aktivasi biopori; pembuatan Losida; serta gerakan penghijauan melalui penanaman bibit pohon dan tanaman lain di satuan kerja.
Program ini dirancang agar gerakan peduli lingkungan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan. Setiap satuan kerja diharapkan memiliki gerakan sederhana namun berkelanjutan, seperti membawa tumbler, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, memilah sampah dari sumbernya, memanfaatkan limbah organik menjadi kompos, mengurangi dokumen cetak yang tidak mendesak, penanaman pohon merawat tanaman sebagai bagian dari budaya kerja ramah lingkungan.
Puji Lestari, selaku perwakilan MAN 2 Bantul dalam Tim Penggerak Ekoteologi, menyampaikan bahwa keterlibatan madrasah dalam Grasi Mantul menjadi bagian penting dari penguatan pendidikan karakter peduli lingkungan. Menurutnya, madrasah memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis kepada warga madrasah melalui pembiasaan sederhana yang berdampak nyata.
“Grasi Mantul menjadi penguat bagi madrasah untuk terus membangun budaya peduli lingkungan. Pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan tumbler, penghematan energi, pengurangan kertas, Losida, biopori, dan penghijauan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan,” ungkap Puji.
Rapat koordinasi ini diharapkan menjadi langkah awal yang kuat dalam menyatukan komitmen seluruh satuan kerja di bawah Kankemenag Bantul. Melalui kolaborasi antara madrasah, KUA, dan unsur Kankemenag, Grasi Mantul diharapkan mampu menjadi gerakan bersama yang memberi dampak nyata bagi lingkungan serta memperkuat budaya kerja yang bersih, asri, hemat energi, minim sampah, dan berkelanjutan. (Pjl)






