Menyalakan Api Budaya di Tengah Generasi Digital: Riyadi Setyawan Raih Juara 1 Guru Inspiratif MA Anugerah GTK Madrasah Kemenag Bantul 2026

Bantul (MAN 2 Bantul) — Ada guru yang mengajar untuk menuntaskan kurikulum. Ada pula guru yang mengajar untuk meninggalkan jejak. Pada Kamis (4/6/2026) di Aula MAN 1 Bantul, satu nama dipanggil dengan penuh kebanggaan: Riyadi Setyawan, Guru Seni Budaya MAN 2 Bantul, yang resmi dinobatkan sebagai Juara 1 Guru Inspiratif jenjang Madrasah Aliyah (MA) dalam ajang Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Bantul Tahun 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam forum apresiasi yang dihadiri jajaran pejabat Kementerian Agama Kabupaten Bantul, pengawas madrasah, kepala madrasah, serta unsur Kelompok Kerja Kepala Madrasah Aliyah (K2MA) Kabupaten Bantul yang turut menjadi bagian dari ekosistem penilaian dan penguatan mutu pendidikan madrasah.

Ajang Anugerah GTK menjadi ruang untuk menemukan dan mengangkat praktik-praktik pendidikan terbaik. Proses seleksi dilakukan melalui penilaian portofolio, karya inovatif, praktik baik pembelajaran, serta kemampuan peserta mempresentasikan gagasan dan dampak yang telah dibangun di lingkungan madrasah.

Dalam sambutannya, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Dikmad) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul Ahmad Musyadad , menegaskan bahwa penghargaan kepada guru bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi energi untuk terus menghadirkan perubahan.

Besarnya antusiasme peserta menunjukkan bahwa madrasah di Kabupaten Bantul memiliki guru dan tenaga kependidikan yang kompetitif, kreatif, dan terus bertumbuh. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi agar praktik-praktik baik terus hidup dan berdampak bagi peserta didik.

Apresiasi juga datang dari unsur pengawas madrasah Kabupaten Bantul yang hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Sumarna, Suhadi, dan Rini Astuti. Mereka menilai Riyadi sebagai sosok pendidik yang mampu membawa pembelajaran melampaui ruang kelas.

Guru inspiratif bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menghadirkan pengalaman belajar yang membekas. Pak Riyadi menjadikan budaya sebagai ruang hidup yang dekat dengan siswa,” ungkap Sumarna.

Bagi banyak pihak yang mengenal Riyadi Setyawan, penghargaan ini terasa sejalan dengan perjalanan pengabdiannya. Di tengah semakin jauhnya generasi muda dari cerita lokal, sejarah, dan budaya Jawa, Riyadi memilih jalan berbeda: menghadirkan kembali budaya melalui bahasa yang dipahami generasi sekarang.

Melalui karya literasi budaya yang ia tulis, termasuk buku Cerpen Wayang Kulit Purwa dan pengembangan gagasan Wayang Dupara, Riyadi mencoba membangun jembatan antara warisan budaya dan generasi digital. Tokoh-tokoh wayang yang selama ini dianggap jauh dan kuno dihidupkan kembali menjadi narasi yang dekat dengan kehidupan remaja—tentang kepemimpinan, keberanian, pengorbanan, identitas, dan nilai luhur budaya Jawa.

Buku tersebut bukan sekadar karya literasi, melainkan gerakan kecil untuk menghidupkan kembali ingatan budaya. Siswa yang sebelumnya asing dengan pewayangan mulai mengenal sejarah, memahami filosofi Jawa, serta menyadari bahwa budaya bukan benda masa lalu yang disimpan di museum, melainkan sumber nilai yang tetap relevan untuk masa depan.

Di tangan Riyadi Setyawan, pelajaran Seni Budaya tidak berhenti pada menggambar atau teori estetika. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan; tempat siswa belajar bahwa menjadi modern tidak berarti melupakan akar.

Penghargaan Juara 1 Guru Inspiratif MA 2026 akhirnya menjadi pengakuan atas sesuatu yang lebih besar dari prestasi pribadi: bahwa pendidikan terbaik bukan hanya membuat siswa menjadi pintar, tetapi juga membantu mereka mengenal jati dirinya.

Selamat kepada Riyadi Setyawan—guru yang tidak hanya mengajar seni, tetapi menyalakan api budaya untuk generasi berikutnya. (rys)

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top