Bantul (MAN 2 Bantul) – Suasana kreatif menyelimuti Laboratorium Multimedia 2 MAN 2 Bantul pada Senin (13/4/2026). Beberapa siswa kelas X B tampak antusias mengikuti sesi pembelajaran produktif Multimedia. Di bawah bimbingan guru Multimedia, Tuti Mulyati, para siswa tidak hanya sekadar memotret, tetapi juga belajar bagaimana menyusun pesan visual yang efektif melalui materi Fotografi Dasar, khususnya mengenai prinsip komposisi dan aspek rasio.
Dalam paparannya, Tuti Mulyati menekankan bahwa fotografi dalam konteks DKV memiliki beban tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar hobi. Foto harus mampu menjadi media komunikasi yang lugas.
“Komposisi fotografi adalah cara kita menyusun dan menata elemen visual dalam bingkai foto agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan jelas, menarik, dan efektif,” ujar Tuti di hadapan para siswa. Menurutnya, dalam dunia desain, foto yang dihasilkan harus memiliki fungsi strategis, seperti mengarahkan perhatian audiens, menegaskan pesan utama, hingga membangun emosi dan suasana tertentu guna mendukung tujuan desain—baik itu untuk promosi, dokumentasi, maupun edukasi.
Kegiatan praktikum kali ini dirancang secara komprehensif. Siswa tidak hanya diminta mengambil gambar secara acak, namun dibekali dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang memiliki indikator capaian yang jelas. Terdapat lima tujuan utama dalam praktikum ini:
-
Mengidentifikasi berbagai komposisi fotografi secara teoretis dan praktis.
-
Menganalisis komposisi pada sebuah karya foto untuk memahami kekuatan visualnya.
-
Menerapkan minimal lima prinsip komposisi yang berbeda dalam praktik pengambilan gambar.
-
Menentukan framing (pembingkaian) dan angle (sudut pandang) yang paling tepat untuk subjek yang dipilih.
-
Menyajikan dan Menjelaskan hasil karya foto di depan kelas sebagai bentuk pertanggungjawaban karya.
Â
 
Siswa kelas X B diperkenalkan pada berbagai prinsip krusial dalam fotografi. Mulai dari Rule of Thirds yang membagi bidang foto menjadi sembilan kotak seimbang, hingga Leading Lines yang memanfaatkan garis alami untuk menuntun mata pelihat menuju subjek utama. Selain itu, materi juga mencakup Symmetry, Framing, Depth (kedalaman), hingga penggunaan Negative Space untuk memberikan ruang napas pada desain.
Tak kalah penting, Tuti juga menjelaskan mengenai Point of View dan Angle. Sudut pengambilan gambar seperti Bird Eye View, High Angle, Low Angle, Eye Level, hingga Worm Eye View dipraktikkan langsung oleh siswa untuk melihat bagaimana perbedaan sudut pandang dapat mengubah makna dan kesan sebuah foto secara drastis. Pemahaman mengenai aspek rasio juga menjadi poin kunci agar foto yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan media publikasi masa kini, baik itu untuk kebutuhan cetak maupun media sosial.
Setelah sesi materi singkat, MAN 2 Bantul berubah menjadi studio dadakan. Siswa mulai mengeksplorasi setiap sudut ruangan dan area sekolah untuk mencari objek foto yang menarik. Dengan teliti, mereka mengatur posisi kamera, mempertimbangkan pencahayaan, dan memastikan komposisi yang diambil memenuhi kriteria yang ada di LKPD.
“Tantangan tersendiri adalah bagaimana menerapkan lima prinsip berbeda pada satu objek yang sama. Kami belajar bahwa memotret itu bukan soal menekan tombol, tapi soal rasa dan perhitungan,” ungkap salah As’ad saat sedang mencoba teknik Pattern & Repetition.
Melalui praktikum ini, MAN 2 Bantul berharap para siswa Multimedia tidak hanya mahir secara teknis dalam mengoperasikan perangkat, tetapi juga memiliki kepekaan artistik yang kuat. Keterampilan fotografi dasar ini akan menjadi fondasi bagi mereka sebelum melangkah ke materi desain yang lebih kompleks di tingkat selanjutnya. Dengan penguasaan komposisi yang matang, diharapkan lulusan kelas Multimedia mampu menghasilkan karya-karya visual yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mampu menyampaikan pesan secara profesional. ™






