Jatu Anggraeni Tekankan Peran Orang Tua Hadapi Tekanan Studi Anak dalam Parenting MAN 2 Bantul

Bantul (MAN 2 Bantul) – MAN 2 Bantul menggelar kegiatan Parenting dan Penyampaian Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026 pada Senin (5 /1/26). Kegiatan yang berlangsung di Masjid At Ta’awun MAN 2 Bantul ini menghadirkan Jatu Anggraeni, dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), sebagai narasumber utama dalam sesi parenting yang berfokus pada pendampingan orang tua dalam menentukan kelanjutan studi anak.

Acara dibuka oleh Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, yang menyampaikan bahwa kegiatan parenting ini menjadi bagian penting dari upaya madrasah membangun kolaborasi dengan orang tua. Menurutnya, masa kelas XII merupakan fase krusial yang membutuhkan dukungan bersama agar peserta didik mampu menentukan pilihan studi secara bijak dan sesuai potensi.

Madrasah tidak dapat berjalan sendiri. Peran orang tua sangat menentukan dalam membantu anak menghadapi masa transisi menuju perguruan tinggi atau jenjang pendidikan berikutnya.” ungkapnya.

Memasuki sesi inti, Jatu Anggraeni menyampaikan materi parenting dengan penekanan pada kondisi psikologis siswa kelas XII yang tengah berada pada fase penuh tekanan. Ia menjelaskan bahwa banyak siswa mengalami stres karena tuntutan untuk bersaing dengan teman sebaya, kebingungan memilih jurusan, serta kekhawatiran akan peluang diterima di perguruan tinggi.

Menurut Jatu Anggraeni, tekanan tersebut kerap tidak disadari oleh orang tua karena anak cenderung memendam kegelisahannya. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya kehadiran orang tua sebagai pendamping yang memahami, bukan sekadar pemberi tuntutan.

Pada usia ini, anak-anak tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga rasa aman. Orang tua perlu hadir sebagai pendengar yang baik, memberikan ruang dialog, dan menghindari perbandingan yang justru menambah beban psikologis anak.” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa keputusan mengenai kelanjutan studi idealnya merupakan hasil komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Orang tua diharapkan tidak memaksakan kehendak, melainkan membantu anak mengenali minat, bakat, dan kemampuan akademiknya secara realistis.

Ketika anak merasa didukung, mereka akan lebih percaya diri dalam menentukan pilihan jurusan dan perguruan tinggi. Dukungan emosional seringkali lebih berdampak daripada tekanan untuk berprestasi.” tambahnya.

Selain membahas aspek psikologis, Jatu Anggraeni juga mengingatkan orang tua agar memahami bahwa setiap anak memiliki kecepatan dan jalur sukses yang berbeda. Ia mengajak orang tua untuk melihat proses pendidikan anak secara utuh, bukan hanya dari hasil tes semata.

Setelah sesi parenting, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Fitria Endang Susana. Disampaikan bahwa hasil TKA siswa kelas XII telah dianalisis dan direkapitulasi sebagai bahan pemetaan kemampuan akademik.

Nilai TKA siswa dikategorikan ke dalam empat capaian, yaitu Istimewa, Baik, Memadai, dan Kurang. Kategorisasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran objektif mengenai posisi akademik siswa serta menjadi dasar dalam perencanaan pendampingan lanjutan.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan informasi penting terkait seleksi SNBP 2026. Ditekankan bahwa nilai TKA bukan satu-satunya faktor penentu kelulusan SNBP. Terdapat sejumlah faktor lain yang turut dipertimbangkan, antara lain nilai rapor, sertifikat prestasi, portofolio, rekam jejak alumni, serta akreditasi sekolah.

Dengan demikian, apabila nilai TKA siswa lebih rendah dibandingkan nilai rapor, siswa masih memiliki peluang untuk lolos SNBP 2026 selama faktor pendukung lainnya menunjukkan capaian yang baik. Informasi ini diharapkan mampu mereduksi kecemasan orang tua dan siswa dalam menyikapi hasil TKA.

Melalui kegiatan ini, MAN 2 Bantul berharap orang tua semakin memahami perannya sebagai mitra strategis madrasah dalam mendampingi anak menghadapi masa depan. Kehadiran Jatu Anggraeni sebagai narasumber parenting memberikan penguatan bahwa keberhasilan studi anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh dukungan emosional dan komunikasi yang sehat dalam keluarga.

Sinergi antara madrasah, orang tua, dan peserta didik diharapkan mampu menciptakan iklim pendidikan yang kondusif, sehingga siswa kelas XII MAN 2 Bantul dapat melangkah ke jenjang berikutnya dengan kesiapan akademik dan mental yang lebih matang. (ftr)

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top