Bantul (MAN 2 Bantul) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bantul semakin memantapkan langkahnya dalam mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Sebagai bagian dari persiapan menuju penilaian Sekolah Adiwiyata, seluruh jajaran guru dan tenaga kependidikan melaksanakan aksi kerja bakti massal serta penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di area lingkungan madrasah pada Selasa (30/12/25). Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas kebersihan biasa, melainkan bentuk komitmen kolektif untuk menciptakan ekosistem sekolah yang asri, sehat, dan edukatif. Semangat gotong royong tampak menyelimuti wajah para pendidik yang biasanya sibuk di depan kelas, kini bahu-membahu mencangkul tanah, membersihkan drainase, dan menata taman madrasah.
Kepala MAN 2 Bantul Nur Hasanah Rahmawati menekankan bahwa program Adiwiyata bukan hanya tentang memenangkan perlombaan atau meraih penghargaan. Lebih dari itu, tujuan utamanya adalah menanamkan karakter peduli lingkungan kepada seluruh warga sekolah, yang dimulai dari keteladanan para guru. “Kami ingin menjadikan MAN 2 Bantul sebagai ‘paru-paru’ yang nyaman bagi siswa untuk belajar. Dengan melibatkan guru secara langsung dalam kerja bakti dan penanaman TOGA, kita memberikan contoh nyata bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama.” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Aksi ini difokuskan pada revitalisasi lahan kosong yang dialihfungsikan menjadi Apotek Hidup. Berbagai jenis tanaman herbal ditanam, mulai dari jahe, kunyit, kencur, temulawak, hingga lidah buaya dan daun sirih. Pemilihan tanaman TOGA ini didasari oleh fungsinya yang ganda: sebagai penghijau lingkungan sekaligus sarana edukasi praktis bagi siswa mengenai manfaat tanaman herbal tradisional Indonesia.
Penanaman TOGA ini diharapkan dapat menjadi laboratorium alam bagi para siswa. Nantinya, siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga dapat mengamati langsung morfologi tanaman dan mempelajari cara pengolahannya menjadi obat tradisional yang bermanfaat. Selain fokus pada tanaman, kerja bakti ini juga menyasar pada pengelolaan sampah dan penataan sistem sanitasi sekolah. Guru-guru terlihat memilah sampah organik dan anorganik, serta memastikan tidak ada air yang menggenang di area madrasah guna mencegah munculnya sarang nyamuk. “Suasana kerja bakti ini sangat menyenangkan. Selain lingkungan jadi lebih rapi, kegiatan ini juga mempererat silaturahmi antar guru di saat masih liburan siswa” ungkap Sri Suhartun salah satu guru yang turut serta menanam bibit kunyit.
Langkah MAN 2 Bantul dalam menyongsong Adiwiyata ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Upaya berkelanjutan seperti penghematan energi, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di kantin, dan pemeliharaan taman yang rutin diharapkan dapat membawa madrasah ini meraih predikat Adiwiyata tingkat kabupaten maupun provinsi. Dengan lingkungan yang hijau dan tertata, diharapkan motivasi belajar siswa meningkat dan kesadaran akan pentingnya menjaga bumi tumbuh sejak dini. MAN 2 Bantul membuktikan bahwa pendidikan lingkungan hidup paling efektif dimulai dari aksi nyata dan keteladanan. (ss)






