Heni Prilantari Tekankan Kurikulum Berbasis Cinta dalam Evaluasi PKKM di MAN 2 Bantul

Bantul (MAN 2 Bantul) — Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Heni Prilantari, memberikan penekanan penting terkait implementasi Kurikulum Berbasis Cinta saat melakukan evaluasi Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) di MAN 2 Bantul. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (20/11/25) di Aula MAN 2 Bantul tersebut menjadi ruang pembinaan bagi kepala madrasah, guru, dan tim manajemen untuk memperkuat kualitas kepemimpinan serta iklim pembelajaran.

Dalam penyampaiannya, Heni menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta harus hadir bukan hanya dalam perencanaan pembelajaran, tetapi juga dalam pola interaksi guru dengan siswa. Ia mengingatkan agar pendidik menghindari sikap marah, membentak, atau menunjukkan emosi meledak-ledak saat menangani masalah di kelas. “Pendidikan yang berlandaskan cinta menuntut kita untuk tetap tenang dan penuh empati. Anak-anak akan lebih mudah memahami nasihat apabila disampaikan dengan kelembutan dan ketulusan.” ujar Heni di hadapan jajaran MAN 2 Bantul.

Dalam kesempatan tersebut, Heni juga memberikan materi pembinaan khusus mengenai teknik komunikasi penyelesaian masalah melalui konsep “Jurus Burger”. Ia menjelaskan bahwa metode ini dinilai efektif untuk digunakan guru saat berdialog dengan siswa maupun ketika menangani persoalan kedisiplinan. Jurus Burger terdiri dari tiga tahapan, yaitu:

  1. Koreksi Awal: membuka percakapan dengan apresiasi atau koreksi positif untuk menciptakan suasana yang nyaman.
  2. Mengeksplorasi Solusi: menggali akar permasalahan, mendengarkan penjelasan, dan mencari alternatif penyelesaian bersama.
  3. Koreksi Akhir: menutup dengan penguatan, nasihat, atau koreksi konstruktif agar siswa tetap termotivasi memperbaiki diri.

Menurut Heni, pola ini membantu guru untuk tidak terjebak pada fokus kesalahan, tetapi mengutamakan pencarian solusi yang mendidik. Selain Jurus Burger, Heni turut memperkenalkan konsep Segitiga Retribusi sebagai strategi penyelesaian masalah berbasis refleksi dan tanggung jawab. Tahapan dalam segitiga ini meliputi:

  • Mengakui kesalahan,
  • Memvalidasi tindakan yang salah tanpa menghakimi,
  • Menanyakan keyakinan atau komitmen untuk memperbaiki kesalahan.

Pendekatan ini, menurut Heni, dapat membangun kesadaran internal siswa sekaligus menghindarkan pendidik dari penggunaan hukuman emosional. Materi pembinaan dari Heni Prilantari mendapat perhatian serius dari seluruh jajaran MAN 2 Bantul. Kepala Madrasah Nur Hasanah Rahmawati menyampaikan apresiasinya atas pendampingan yang diberikan oleh pengawas Kemenag dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan memperkuat kompetensi sosial guru.

Kami sangat terbantu dengan pembinaan ini. Prinsip-prinsip Kurikulum Berbasis Cinta dan metode penyelesaian masalah yang disampaikan menjadi pedoman penting untuk membangun karakter siswa secara lebih baik.” ungkapnya.

Evaluasi PKKM ini diharapkan tidak hanya menjadi proses penilaian administratif, tetapi juga momentum penguatan budaya positif di lingkungan madrasah, sehingga MAN 2 Bantul terus berkembang menjadi lembaga yang ramah, humanis, dan mendorong tumbuhnya generasi berakhlak mulia.

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top