Bantul (MAN 2 Bantul) — MAN 2 Bantul bersinergi dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Bantul dalam program penguatan kompetensi jurnalistik guna membangun jurnalisme pelajar yang berkualitas. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa (31/3/2026) di Aula MAN 2 Bantul melalui workshop dan pendampingan penulisan berbasis user-generated content (UGC) dengan melibatkan siswa, guru, serta aparat pengawas pemilu, sebagai upaya mendorong keterbukaan informasi publik dan meningkatkan literasi digital di tengah maraknya hoaks terkait isu pemilu.
Program ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh UMY bekerja sama dengan Bawaslu Bantul dan didukung oleh SMK Negeri 1 Bantul serta Pemerintah Kalurahan Sabdodadi. Dalam pelaksanaannya, peserta dibekali keterampilan menulis berita yang baik, teknik penyajian informasi yang efektif, serta pemahaman pentingnya validitas informasi di ruang digital. Ketua Bawaslu Bantul, Didik Joko Nugroho, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mencetak agen literasi digital dari kalangan pelajar, guru, hingga aparat pengawas pemilu. Menurutnya, kemampuan jurnalistik yang baik akan membantu menyampaikan informasi secara benar sekaligus memperkuat pengawasan demokrasi secara cerdas dan kreatif.

Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, mengapresiasi kolaborasi ini karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Ia menegaskan bahwa literasi media dan jurnalistik merupakan kompetensi penting di era digital yang serba cepat.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa dan guru, karena tidak hanya melatih keterampilan menulis, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Kami berharap dari sini lahir jurnalis pelajar yang mampu menghadirkan informasi yang akurat, menarik, dan beretika,” ungkapnya.
Sementara itu, inisiator kegiatan, Filosa Gita Sukmono, menekankan bahwa penguatan jurnalistik menjadi salah satu strategi efektif dalam menekan dominasi konten negatif. Melalui program ini, diharapkan lahir lebih banyak konten positif dan berkualitas sehingga mampu mempersempit ruang penyebaran hoaks serta meningkatkan kualitas informasi publik di masyarakat. (nhr)






