Bantul (MAN 2 Bantul) – MAN 2 Bantul mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Memanfaatkan MAGIS (Madrasah Digital Supervision) yang diselenggarakan pada Kamis (17/9/2026) di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul.
Kegiatan tersebut diikuti oleh Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, bersama Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum sekaligus Ketua Tim KBC, Fitria Endang Susana. Bimtek ini menjadi sarana penguatan pemahaman madrasah dalam menerapkan KBC sekaligus meningkatkan tata kelola dan mutu pendidikan.
Salah satu materi disampaikan oleh Sumarno, yang membahas langkah-langkah perbaikan mutu madrasah secara berkelanjutan. Dalam pemaparannya, Sumarno menjelaskan pentingnya perencanaan yang terarah, pelaksanaan aksi perbaikan, monitoring dan evaluasi, serta refleksi.
Menurut materi yang disampaikan, langkah kedua dalam proses perbaikan mutu adalah menyusun perencanaan dengan menentukan prioritas madrasah. Prioritas tersebut kemudian dikembangkan menjadi solusi atau upaya perbaikan yang dilengkapi dengan indikator keberhasilan.
Tahap berikutnya adalah melaksanakan aksi perbaikan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Sumarno menekankan bahwa perbaikan perlu dilakukan secara berulang dan berkelanjutan melalui pembentukan lingkungan yang aman, saling menghargai, serta terbuka terhadap proses belajar dari kesalahan.
“Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar dan pengembangan. Karena itu, setiap warga madrasah perlu diberikan saran perbaikan dan kesempatan untuk berkembang,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam materi tersebut.
Sumarno juga menyoroti pentingnya membangun budaya refleksi secara rutin. Melalui refleksi, madrasah dapat melihat berbagai upaya yang telah dilakukan, mengidentifikasi kendala, dan menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan.
Pada tahap monitoring dan evaluasi, madrasah perlu meninjau capaian selama satu tahun. Hasil evaluasi dapat menjadi dasar untuk mengapresiasi keberhasilan sekaligus menyusun strategi peningkatan mutu pada periode berikutnya.
Adapun skala capaian yang digunakan meliputi nilai 100 untuk kategori sangat tercapai, 75 tercapai, 50 cukup tercapai, 25 kurang tercapai, dan 0 belum tercapai. Skala tersebut menjadi alat bantu bagi madrasah dalam melihat tingkat keberhasilan program yang dilaksanakan.
Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, menyampaikan bahwa implementasi KBC perlu diiringi dengan komitmen seluruh warga madrasah untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
“Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya tentang pemenuhan program, tetapi juga bagaimana nilai-nilai cinta dapat diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan budaya madrasah. Melalui evaluasi dan refleksi yang berkelanjutan, kami berupaya mendorong peningkatan mutu madrasah secara konsisten,” ungkap Nur Hasanah Rahmawati.
Ia berharap kegiatan bimtek tersebut dapat memperkuat pemahaman dan kolaborasi seluruh warga madrasah dalam menerapkan KBC secara nyata dalam proses pendidikan.
Melalui kegiatan ini, MAN 2 Bantul memperoleh penguatan wawasan mengenai pentingnya perbaikan mutu yang dilakukan secara sistematis. Implementasi KBC diharapkan tidak hanya berorientasi pada program, tetapi juga mampu mendorong perubahan karakter, perilaku, dan penguatan nilai-nilai cinta dalam kehidupan madrasah. (ftr)






