Bantul (MAN 2 Bantul) – MAN 2 Bantul memperkuat pemahaman tentang implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi KBC Memanfaatkan MAGIS (Madrasah Digital Supervision). Kegiatan yang menghadirkan Pengawas Madrasah Aliyah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Heni Prilantari, sebagai narasumber tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Kamis (17/9/2026).
Bimtek ini diselenggarakan untuk mendukung peningkatan kualitas tata kelola dan pengawasan madrasah melalui pemanfaatan teknologi digital. MAN 2 Bantul diwakili oleh Kepala Madrasah Nur Hasanah Rahmawati dan Waka Kurikulum Fitria Endang Susana.
Dalam penyampaian materinya, Heni Prilantari menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendidikan nilai yang menekankan penanaman, penghayatan, dan pengamalan nilai cinta sebagai fondasi universal nilai utama agama bagi kehidupan manusia.
Nilai-nilai KBC mencakup aspek spiritual, personal, sosial, dan berbagai dimensi nilai lainnya. Penerapan nilai tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku nyata seluruh stakeholder madrasah, mulai dari kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik.
“Esensi Kurikulum Berbasis Cinta adalah bagaimana nilai cinta tidak berhenti pada pemahaman, tetapi ditanamkan, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Implementasinya harus dapat dilihat dari tingkah laku kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, serta lingkungan madrasah,” jelas Heni Prilantari.
Ia menekankan pentingnya mewujudkan madrasah ramah anak yang mendukung kesejahteraan mental dan spiritual murid serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Seluruh warga madrasah memiliki tanggung jawab dalam menciptakan suasana pendidikan yang aman, nyaman, dan penuh penghargaan.
Materi selanjutnya membahas MAGIS (Madrasah Digital Supervision) yang terhubung dengan EMIS. Pemanfaatan MAGIS diarahkan untuk mendukung digitalisasi pengawasan serta pengukuran pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.
Heni Prilantari menjelaskan bahwa implementasi KBC dapat dilihat melalui tingkah laku stakeholder madrasah dan kondisi lingkungan. Oleh karena itu, pengawasan perlu memperhatikan penerapan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya berfokus pada aspek administrasi.
Keterhubungan MAGIS dengan EMIS menjadi bagian dari upaya penguatan sistem pengawasan yang mendukung pemantauan dan evaluasi pelaksanaan KBC secara lebih terarah.
Mata Pelajaran Tidak Dijadikan Sarana Hukuman
Dalam pembahasan tentang madrasah ramah anak, Heni Prilantari menekankan agar mata pelajaran tidak dijadikan sebagai sarana hukuman bagi peserta didik. Pembelajaran perlu menjadi ruang yang mendukung perkembangan akademik, karakter, serta kesejahteraan mental dan spiritual murid.
Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan dapat membangun hubungan yang positif antara kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Lingkungan pendidikan juga perlu dikembangkan agar ramah anak dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Keikutsertaan MAN 2 Bantul dalam Bimtek ini menjadi bagian dari komitmen madrasah untuk memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sekaligus mengembangkan tata kelola berbasis digital.
“Kegiatan ini menjadi momentum bagi MAN 2 Bantul untuk terus memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam kehidupan madrasah. Kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai cinta tidak hanya dipahami, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku seluruh warga madrasah. Dengan dukungan teknologi melalui MAGIS, kami berharap tata kelola pendidikan semakin baik dan mampu mewujudkan madrasah yang ramah anak, berkarakter, serta adaptif terhadap perkembangan zaman,” ungkap Nur Hasanah Rahmawati.
Melalui penguatan pemahaman KBC dan pemanfaatan MAGIS, MAN 2 Bantul terus berupaya mewujudkan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta, pengembangan keterampilan, dan teknologi sesuai semangat Madrasah Technopreneur Terampil Berkarakter. (ftr)






