MAN 2 Bantul Dukung GRASI-MANTUL, Gerakan Lingkungan Asri Kemenag Bantul

Bantul (MAN 2 Bantul) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul menggelar Rapat Koordinasi Lanjutan Program Ekoteologi pada Kamis (25/6/26) di Aula Lantai 2 Kantor Kemenag Bantul. Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut dibuka oleh Kepala Kemenag Bantul, Muntholib. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut rencana aksi pelaksanaan program kerja ekoteologi di lingkungan Kantor Kemenag Kabupaten Bantul.

Rapat koordinasi ini dihadiri jajaran pimpinan Kemenag Bantul, kepala KUA se-Kabupaten Bantul, kepala madrasah negeri, serta Tim Penggerak Ekoteologi Kemenag Bantul. MAN 2 Bantul turut berperan aktif melalui kehadiran Nur Hasanah Rahmawati sebagai Kepala MAN 2 Bantul dan Puji Lestari, guru MAN 2 Bantul yang juga merupakan anggota Tim Penggerak Ekoteologi Kemenag Bantul.

Dalam kegiatan tersebut, dibahas program GRASI-MANTUL, akronim dari Gerakan Lingkungan Asri Kementerian Agama Kabupaten Bantul. Program ini menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan KUA dan madrasah negeri se-Kabupaten Bantul.

Istilah GRASI juga memiliki makna filosofis, yaitu sebagai bentuk pengampunan atau penebusan atas “dosa lingkungan” yang selama ini dilakukan. Kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai, boros kertas, membuang sampah tanpa pemilahan, kurang peduli terhadap limbah organik, serta minimnya penghijauan menjadi persoalan yang perlu ditebus dengan aksi nyata. Melalui GRASI-MANTUL, setiap satuan kerja diajak melakukan perubahan melalui gerakan membawa tumbler, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, menghemat kertas, menanam pohon, membuat biopori, serta mengelola sampah organik melalui Losida.

Pada sesi diskusi, Tim Ekoteologi memberikan penjelasan mengenai program kerja GRASI-MANTUL. Diskusi dipandu oleh Ketua GRASI-MANTUL, Isman, S.Pt., S.A.P. Peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan masukan terkait teknis pelaksanaan program di satuan kerja masing-masing.

Dalam kesempatan tersebut, Puji Lestari, selaku anggota Tim Penggerak Ekoteologi Kemenag Bantul, turut menjelaskan tentang biopori dan Losida untuk menjawab pertanyaan peserta. Puji menyampaikan bahwa biopori merupakan lubang resapan yang bermanfaat meningkatkan daya serap air ke dalam tanah, mengurangi genangan, sekaligus menjadi media pengolahan sampah organik. Sementara itu, Losida atau Lodong Sisa Dapur merupakan wadah sederhana untuk mengelola sisa makanan dan sampah organik dapur agar tidak langsung dibuang ke tempat sampah atau TPA.

Biopori dan Losida dapat diterapkan secara sederhana di madrasah maupun KUA. Keduanya menjadi solusi praktis untuk mengurangi limbah organik, mendukung kesuburan tanah, mengurangi genangan air, serta membangun kebiasaan warga satuan kerja agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah dari sumbernya,” jelas Puji.

Program GRASI-MANTUL dirancang melibatkan 33 satuan kerja, terdiri atas 16 madrasah negeri dan 17 KUA se-Kabupaten Bantul. Beberapa rencana aksi yang dibahas meliputi penunjukan 33 Duta Ekoteologi, penerapan kebijakan green office, pembiasaan membawa tumbler, pengurangan penggunaan kertas, pemasangan biopori dan Losida, penanaman 165 bibit tanaman sayur dan pohon, serta penyediaan tempat sampah pilah.

Puji menambahkan bahwa MAN 2 Bantul siap mendukung gerakan ekoteologi tersebut melalui berbagai pembiasaan ramah lingkungan di madrasah. Menurutnya, program ini sejalan dengan semangat MAN 2 Bantul dalam membangun budaya peduli lingkungan, pengurangan sampah plastik, pengelolaan kantin sehat, pemilahan sampah, serta penguatan peran siswa sebagai agen perubahan.

Ekoteologi bukan hanya konsep, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Di madrasah, gerakan ini dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membawa tumbler, memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, menanam tanaman, serta mengelola limbah organik melalui biopori dan Losida,” ungkapnya.

Melalui rakor lanjutan ini, Kemenag Bantul berharap setiap satuan kerja memiliki komitmen yang sama dalam menerapkan aksi ekologis. Program direncanakan berjalan secara bertahap mulai akhir Juni 2026, dilanjutkan dengan pengukuhan duta, pelaksanaan kebijakan green office, pemasangan biopori dan Losida, penanaman bibit, serta evaluasi pada Agustus hingga September 2026.

Kegiatan ini menjadi langkah penting bagi MAN 2 Bantul dan satuan kerja Kemenag Bantul lainnya untuk memperkuat budaya ekologis yang berlandaskan nilai keagamaan. Dengan semangat GRASI-MANTUL, ekoteologi diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir sebagai gerakan nyata untuk merawat bumi sebagai rumah kehidupan.(pjl).

Share ke sosial media
Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by
Scroll to Top