Yogyakarta (MAN 2 Bantul) — Nuansa budaya Jawa terasa begitu kental dalam pelaksanaan Uji Kompetensi Karawitan Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta Universitas Gadjah Mada yang digelar pada Selasa malam (19/5/2026) pukul 18.30–21.30 WIB. Bertempat di Pendopo Kricak, Jalan Jatimulyo No. 653 Yogyakarta, kegiatan berlangsung dalam suasana hangat, khidmat, dan penuh semangat pelestarian budaya.
Pendopo milik Djaka Waluyo tersebut menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pendidikan, dan kreativitas generasi muda. Iringan gamelan yang menggema sepanjang malam menghadirkan atmosfer yang syahdu sekaligus memperlihatkan kesungguhan mahasiswa dalam mendalami seni karawitan gaya Surakarta.
Dalam kegiatan itu, Riyadi Setyawan, guru seni dari MAN 2 Bantul, dipercaya menjadi penilai sekaligus pelatih karawitan Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta UGM. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam proses uji kompetensi karena tidak hanya menilai kemampuan teknis mahasiswa, tetapi juga membimbing mereka memahami kedalaman rasa dan filosofi dalam karawitan Jawa.
Adapun materi yang diujikan terbagi menjadi dua paket sajian. Paket pertama mencakup Jineman Kandheg, Ladrang Santi Mulyo, Ketawang Subakastawa Rinengga, serta Lancaran Retna Manekung laras pelog patet nem. Sementara paket kedua menghadirkan Ladrang Wilujeng, Ketawang Puspawarna, dan Lancaran “Kui Apa Kui” laras pelog patet barang.
Melalui materi tersebut, mahasiswa diuji dalam berbagai aspek, mulai dari penguasaan tempo dan irama, kekompakan antarpengrawit, ketepatan garap, hingga penghayatan rasa musikal dalam setiap gending yang dibawakan. Keragaman materi juga menjadi tantangan tersendiri karena masing-masing gending memiliki karakter dan nuansa musikal yang berbeda.
Dengan pendekatan yang hangat namun tetap teliti, Riyadi memberikan penilaian sekaligus masukan yang membangun bagi para peserta. Hal itu membuat suasana evaluasi terasa lebih edukatif dan memotivasi mahasiswa untuk semakin mendalami seni tradisi Jawa.

Sementara itu, Pembina Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta, Ardhya Nareswari menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa dan dedikasi para pelatih dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi di lingkungan kampus.
“Karawitan bukan hanya tentang keterampilan memainkan gamelan, tetapi juga tentang membangun rasa, kedisiplinan, dan kebersamaan. Kami bersyukur mahasiswa mendapat pendampingan dari para pelatih dan penilai yang berpengalaman sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna,” ujarnya.
Para mahasiswa peserta uji kompetensi juga mengungkapkan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. Mereka merasa mendapatkan pengalaman yang berharga karena tidak hanya diuji kemampuan musikalnya, tetapi juga memperoleh banyak pembelajaran mengenai nilai-nilai budaya, etika berkesenian, dan kekuatan harmoni dalam karawitan.
Melalui kegiatan ini, Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta UGM kembali menegaskan komitmennya dalam merawat dan mengenalkan warisan budaya Jawa kepada generasi muda. Di bawah cahaya pendopo dan irama gamelan yang mengalun malam itu, semangat pelestarian tradisi terasa hidup dan terus berdenyut di tengah perkembangan zaman. (rys)






