Bantul (MAN 2 Bantul) — Suasana MAN 2 Bantul pada Kamis pagi (17/7/2025) menjadi saksi bisu gelora semangat dan ledakan kreativitas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bantul. Halaman utama madrasah dipenuhi sorak sorai antusiasme saat Pentas Seni Siswa Baru digelar sebagai bagian integral dari rangkaian kegiatan Madrasah Siswa Masa Ta’aruf (MATSAMA) Tahun Ajaran 2025/2026. Acara tahunan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang perkenalan bagi para siswa baru, tetapi juga menjadi panggung megah untuk memamerkan bakat-bakat terpendam yang siap diasah di lingkungan madrasah.
Sejak fajar menyingsing, nuansa persiapan sudah terasa di setiap sudut MAN 2 Bantul. Panitia dan para siswa baru tampak sibuk mempersiapkan diri, memastikan setiap detail pertunjukan berjalan sempurna. Mikrofon telah terpasang rapi, tata panggung disulap sedemikian rupa, dan para peserta dengan riasan serta kostum khasnya menunggu giliran untuk tampil. Antusiasme tidak hanya datang dari para peserta, tetapi juga dari seluruh warga madrasah, mulai dari guru, karyawan, hingga siswa senior yang memadati area pentas untuk memberikan dukungan penuh.
Beragam penampilan memukau sukses menghipnotis penonton. Panggung MAN 2 Bantul seolah berubah menjadi kanvas raksasa tempat berbagai ekspresi seni dilukiskan. Penampilan diawali dengan tarian tradisional yang anggun, menampilkan keindahan warisan budaya Indonesia dengan gerakan gemulai dan penuh makna. Disusul kemudian oleh dentingan melodi musik akustik yang syahdu, memanjakan telinga dengan harmoni nada yang tercipta dari kolaborasi apik instrumen musik dan vokal merdu. Tidak ketinggalan, puisi berantai yang dibacakan secara berurutan dan saling mengisi, menyiratkan pesan-pesan mendalam tentang kehidupan, harapan, dan persahabatan. Puncak kemeriahan hadir dalam bentuk drama pendek bertema pendidikan dan budaya, yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyisipkan pesan moral dan refleksi sosial yang relevan bagi para siswa. Setiap pertunjukan menjadi bukti nyata bahwa siswa-siswi baru MAN 2 Bantul memiliki potensi luar biasa yang siap dikembangkan.
Kehadiran Pentas Seni ini bukan sekadar hiburan semata. Di balik kemegahan panggung dan sorak sorai penonton, tersimpan tujuan mulia: menjadi ajang penilaian kreativitas siswa. Untuk memastikan objektivitas dan kualitas penilaian, tiga tokoh profesional yang kompeten di bidang seni dan pendidikan didapuk sebagai dewan juri. Mereka adalah Edi Susanto, pembina OSIM yang juga dikenal sebagai penggerak aktif berbagai kegiatan siswa; Riyadi Setyawan, seorang guru seni budaya yang juga seniman dan penulis aktif, dengan segudang pengalaman di dunia kesenian; serta Irani Trisnanda, guru penjaskesor yang dikenal memiliki keahlian khusus dan perspektif unik dalam menilai kreativitas. Ketiganya dengan cermat mengamati setiap detail penampilan, mulai dari kreativitas ide, kekompakan tim, hingga pesan moral yang disampaikan.
Dalam sambutannya yang penuh inspirasi, Riyadi Setyawan menyampaikan sebuah pesan mendalam yang menggema di hati para siswa dan hadirin. “Seni adalah jembatan perkenalan yang paling indah,” ujarnya dengan suara lantang dan penuh semangat.
Ia melanjutkan, “Melalui seni, siswa dapat mengekspresikan diri, membangun kepercayaan diri, dan belajar menghargai proses serta keragaman.”
Kata-kata Riyadi Setyawan bukan hanya sekadar orasi, melainkan sebuah penegasan akan peran penting seni dalam pembentukan karakter dan pengembangan diri siswa. Ia menekankan bahwa seni adalah wadah universal yang memungkinkan setiap individu untuk bersinar, terlepas dari latar belakang dan kemampuan akademik mereka. Pesan ini seolah menjadi pemantik semangat bagi seluruh siswa untuk tidak ragu mengeksplorasi potensi artistik mereka.
Puncak acara ditandai dengan momen yang paling dinanti: pemberian penghargaan kepada tiga kelompok terbaik. Penilaian dilakukan berdasarkan aspek kreativitas dalam menyajikan ide, kekompakan yang terjalin antaranggota tim, serta kedalaman pesan moral yang berhasil disampaikan kepada penonton. Tepuk tangan riuh dan sorak sorai kegembiraan memenuhi halaman madrasah saat nama-nama pemenang diumumkan. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kerja keras, dedikasi, dan bakat luar biasa yang telah ditunjukkan oleh para siswa baru.
Pentas Seni MATSAMA tahun ini secara gamblang membuktikan bahwa siswa MAN 2 Bantul tidak hanya unggul secara akademik, melainkan juga memiliki potensi besar di bidang seni dan budaya. Keberhasilan acara ini menjadi indikator positif bahwa madrasah ini tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi pengembangan minat dan bakat non-akademik. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat yang kuat bagi seluruh siswa untuk menjalani tahun ajaran baru dengan lebih percaya diri, penuh inspirasi, dan siap menghadapi tantangan dengan semangat kreativitas yang membara. Dengan talenta-talenta muda yang terus bermunculan, masa depan seni dan budaya di MAN 2 Bantul tampak semakin cerah. (Rys)